Yogjakarta, ruang kelas Sekolah Tinggi Islam (STI) itu ditata rapi. Barisan kursinya membentuk sudut 180 derajat. Penuh tegang sekaligus ditentang.
Manusia genuin yang dikirim sejarah dari tanah Sipirok. Dia, Lafran Pane. Gigih merangkul sebayanya untuk menata mahasiswa. 5 Februari 1947, menjadi ceruk waktu berdirinya perkumpulan mahasiswa baru. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Sejak HMI berdiri, pergolakan terus terjadi. Tidak hanya soal ideonolgi, tugas menjaga dan mempertahankan Ibu Pertiwi dipikul HMI. Dari fase perjuangan menegaskan fungsi sebagai organisasi perkaderan.
HMI menjaga mata air perjuangan dengan menyemai perkaderan. Kader-kadernya dibina dalam oase rasional namun memahami tujuan transendental. Struktur komunikasi organisasi dirancang dengan rapi. Agar Fungsi dan peran HMI dapat terus dijalani.
Don’t put all your egges in one basket: The Power of a Diversified Portfolio
Pada Kongres Ke-16 HMI di Padang tahun 1986, kekuasaan negara membelah HMI menjadi dua kafilah. Kafilah yang menerima Pancasila sebagai azas tunggal dengan klan Diponegoro (Dipo). Dan kafilah yang menolak azas tunggal mendirikan klan Majelis Penyelamat Organisasi (MPO). Hingga kini kedua klan ini tak dapat menyatu kembali.
Membaca situasi sejarah saat itu, pilihan pahit itu adalah bagian dari menajemen resiko yang diambil. Filosofi : _don’t put all your egges in one basket_ (jangan taruh semua telor mu dalam satu keranjang) adalah kecerdasan politik yang dipilih HMI. Sebab jika tidak maka, sudah pasti HMI dibubarkan oleh kekuasaan. Pun, sejak awal klan Komunis juga menginginkan HMI ditiadakan.
Filosofi dari Miguel de Cervantes, seorang novelis Spayol ini, tampaknya menginspirasi jalan keluar bagi HMI pada konflik tajam 1986 lalu. Kekuatan teori diversifikasi menjadi penyelamat sejarah perjuangan HMI.
Hingga kini, Himpunan terus berkembang. Perjalanan kebangsaan selalu berkelindan dengan dalam dengus perkaderan. Regenerasi silih berganti. Dan perjalanan roda organisasi terus dievaluasi dan dibenahi.
Merawat Harapan
Dalam doa suci Ahlul Bait Nabi Saw, yang cukup panjang. Terdapat petikan munajat seorang hamba pada Rob-nya. Doa itu dikenal dengan Doa Kumail. Petikannya berbunyi:
” irham man ra’su mâlihir rajâ’ wa silâhuhul bukâ’”
(Kasihanilah orang yang hartanya hanya harapan dan senjatanya hanya tangisan)
Di peradaban semesta ini, HMI telah menjadi harapan bagi umat dan bangsa. HMI bukan saja sebagai Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi menjadi “Harapan Masyarakat Indonesia.” Menggema dalam pidato Panglima Besar Jendral Soedirman. Suaranya teduh dan kukuh, meskipun bernafas hanya dengan satu paru-paru.
Dalam kehidupan ini, harta yang tidak pernah habis adalah harapan. Harapan melampaui seluruh deret nilai materi. Harapan menyalakan perjuangan. Harapan menghidupkan kelesuan bangkit sebagai kekuatan.
Menghidupkan dan menjaga perkaderan adalah jalan merawat harapan. Tugas ini, berada di pundak dan dada para Kanda, Yunda, dan Adinda.
Kini, perjalanan organisasi HMI berusia 79 Tahun. Di momen penuh kenangan ini, saya merenungi angka 79 itu. Lalu, saya buka Al-Quran. Saya buka pada Surah ke 79: An-Naziat ( Malaikat Yang Mencabut). Kandungan utamanya menegaskan kepastian hari kiamat dan kebangkitan, tugas malaikat mencabut nyawa, kisah pembangkangan Fir’aun, serta peringatan balasan surga bagi yang takut kepada Allah dan neraka bagi yang melampaui batas.
Jika berpijak dari pesan-pesan Illahiyah dalam Surah ke 79 Al-Quran mestinya HMI, dari sekedar Harapan Masyarakat Indonesia bisa menjadi: _Harrakah Ma’rifah Illahiyah_ (Gerakan Mengenal Hakikat Tuhan). Inilah yang dipancangkan oleh Ibn Arabi, bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk mengenal dan menyatu dengan Tuhan.
Gambaran itu adalah universatias alam dan kejadiannya. Manusia yang merdeka dan adil akan menentang segala bentuk kemafsadatan.
Andai para kader HMI terus merawat ideologi dan independensi maka derap perjuangan HMI akan selalu terbaharui. Kemerdekaan dan keadilan sosial dan ekonomi terus menjadi pilar dalam perjalanan organisasi. Karena dari mula, Sang Pendiri sudah ‘merdeka sejak dari hati.’ Berbakti dan mengabdi pada Negeri, sebagai jalan mencapai Cinta Ilahi.
Dies Natalis Ke 79 HMI
Lanjutkan Perjuangan, Wujudkan Harapan Tuhan














