Oleh: Dr. Ir. Mukhtarudin Muchsiri, MP.
Ketua MPD Orda ICMI Kota Palembang
Misinews.id | Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan sebuah refleksi kolektif atas keberhasilan bangsa dalam mempertahankan ideologi Pancasila dari berbagai ancaman yang ingin menggantikannya.
Di tengah pusaran disrupsi era 4.0—yang ditandai dengan konektivitas digital, kecepatan informasi, dan perubahan serba cepat—pertanyaan fundamental kembali mengemuka: Bagaimana membumikan kembali Pancasila agar tetap sakti dan relevan?
Ideologi Klasik dan Kontemporer di Tengah Pusaran Disrupsi
Sepanjang sejarah, berbagai ideologi silih berganti memengaruhi peradaban manusia. Dari ideologi klasik seperti liberalisme, sosialisme, dan komunisme, hingga ideologi kontemporer yang lebih cair dan personal.
Liberalisme menawarkan kebebasan individu tanpa batas, sosialisme menekankan kesetaraan kolektif, sementara komunisme menawarkan jalan pintas menuju masyarakat tanpa kelas.
Namun, era digital melahirkan ideologi-ideologi baru yang lebih “lunak” tetapi justru merusak, seperti hedonisme digital yang memuja kesenangan instan, narsisisme yang mengagungkan diri di media sosial, serta ekstremisme yang berkembang biak di ruang-ruang siber yang tak terkontrol.
Era disrupsi 4.0 mempercepat penyebaran ideologi-ideologi tersebut. Algoritma media sosial membentuk filter bubble—gelembung informasi yang mengurung individu dalam ruang gema mereka sendiri, memperkuat bias, dan mematikan dialog.
Informasi palsu (hoaks), ujaran kebencian, dan polarisasi politik menjadi tantangan nyata yang menggerus persatuan. Lantas, di tengah hiruk-pikuk ini, di mana posisi Pancasila?
Pancasila: Ideologi Terbuka yang Adaptif
Pancasila, sebagai ideologi terbuka, terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya—Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial—memberikan kerangka yang kuat namun fleksibel untuk menghadapi berbagai tantangan.
Namun, adaptasi bukan berarti pasrah pada arus, melainkan memanfaatkan setiap perkembangan untuk meneguhkan nilai-nilai luhur.
Membumikan kembali Pancasila di era disrupsi 4.0 menuntut kita untuk tidak lagi memandangnya sebagai dogma kaku atau sekadar hafalan. Ia harus dihidupkan, direaktualisasi, dan diintegrasikan ke dalam setiap aspek kehidupan digital kita.
Strategi Membumikan Pancasila di Era 4.0
1. Literasi Digital Berbasis Pancasila
Di tengah banjir informasi, literasi digital menjadi pertahanan pertama.
Membumikan Pancasila berarti mendorong literasi digital yang kritis, mengubah ruang komentar media sosial dari medan perang menjadi ruang dialog.
Kita harus menyaring konten provokatif, melawan hoaks, dan menjadi digital peacemaker—penjaga kedamaian di dunia maya.
2. Membangun Ekosistem Digital yang Berkeadilan
Era 4.0 tidak boleh melahirkan kesenjangan digital yang semakin lebar. Pancasila, dengan sila Keadilan Sosial, menuntut kita untuk memastikan akses teknologi yang merata, bukan hanya untuk segelintir elite.
Negara dan masyarakat harus bekerja sama membangun infrastruktur digital yang inklusif dan memberikan edukasi agar semua warga dapat merasakan manfaat teknologi secara adil.
3. Memperkuat Identitas Bangsa di Dunia Maya
Budaya asing yang masuk melalui media digital berpotensi mengikis identitas nasional. Namun, ini juga menjadi peluang. Kita bisa menggunakan platform digital untuk mempromosikan kekayaan budaya, bahasa, dan nilai-nilai kearifan lokal yang sejalan dengan Pancasila.
Menggaungkan semangat Bhinneka Tunggal Ika di media sosial adalah salah satu cara yang efektif.
4. Pendidikan Pancasila yang Relevan
Lembaga pendidikan harus berinovasi. Pendidikan Pancasila tidak lagi bisa disampaikan dengan metode konvensional.
Pemanfaatan media digital seperti film animasi, gim edukatif, atau konten interaktif dapat menjadi jembatan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda yang akrab dengan teknologi.
Pancasila dan Hedonisme Digital
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah hedonisme digital, di mana kesenangan instan menjadi tujuan utama hidup.
Pancasila, dengan nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan, menawarkan penyeimbang. Ia mengajak kita untuk merefleksikan makna hidup yang lebih dalam—tidak hanya terperangkap dalam kepuasan semu di dunia maya.
Beribadah dengan khusyuk di tengah distraksi digital, serta meluangkan waktu untuk berinteraksi secara nyata dengan sesama, adalah bentuk-bentuk kecil dari perlawanan terhadap hedonisme digital.
Penutup
Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2025 adalah momentum untuk merenung.
Kesaktian Pancasila bukan terletak pada keberhasilannya menumpas gerakan masa lalu, melainkan pada kemampuannya dalam menembus tantangan masa kini dan masa depan.
Membumikannya berarti menjadikan Pancasila sebagai kompas moral dan etika dalam menavigasi lautan disrupsi 4.0 yang penuh gejolak.
Hanya dengan cara itu, Pancasila akan terus hidup, relevan, dan menjadi pemandu jalan bagi Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, adil, dan beradab.*









